Ketua Harian Perisai Prabowo, Kamir Abdullah, mengimbau Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, untuk lebih memprioritaskan peran di bidang sosial dibanding terlibat dalam polemik politik yang dinilai kurang produktif.
Pernyataan tersebut disampaikan Kamir saat ditemui di kantornya, Rabu (22/4/2026). Ia menilai, pengalaman panjang dan pengaruh luas yang dimiliki Jusuf Kalla merupakan aset penting yang seharusnya difokuskan pada kegiatan kemanusiaan dan sosial.
Menurut Kamir, kontribusi Jusuf Kalla di bidang sosial selama ini telah terbukti dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong agar peran tersebut terus diperkuat di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa.
“Peran beliau di ranah sosial sudah sangat jelas manfaatnya. Akan lebih optimal jika itu yang terus dikembangkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kamir menilai keterlibatan tokoh senior dalam perdebatan politik berpotensi memperkeruh suasana publik, terutama di tengah kondisi komunikasi politik yang semakin dinamis dan cepat.
Ia menyoroti bahwa diskursus politik saat ini kerap dipenuhi pernyataan yang tidak selalu menghadirkan solusi konkret, sehingga berisiko memperpanjang polarisasi di masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Kamir juga menyinggung relasi politik antara Jusuf Kalla dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Ia berpandangan bahwa polemik terkait hubungan tersebut sebaiknya tidak kembali diangkat ke ruang publik.
“Sejarah politik seharusnya dipahami secara utuh, bukan dibuka kembali untuk diperdebatkan,” katanya.
Kamir juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat di era digital. Ia menilai setiap pernyataan tokoh publik sangat mudah tersebar luas dan berpotensi menimbulkan berbagai interpretasi di masyarakat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, khususnya yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Ruang publik yang sehat sangat ditentukan oleh kedewasaan kita dalam berkomunikasi,” ujarnya.
Perisai Prabowo, lanjut Kamir, berharap para tokoh nasional dapat mengambil peran sebagai penyejuk di tengah dinamika politik yang berkembang, sekaligus tetap fokus pada isu-isu yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.(*)











