oleh

STII Konsolidasikan Petani Pantura, Dorong Penguatan Pangan dan Agrobisnis Daerah

PURWAKARTA, Semangat memperkuat kemandirian pangan dan membangun ekonomi berbasis pertanian menjadi agenda utama konsolidasi Serikat Tani Islam Indonesia (STII) zona Pantura. Sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, jajaran Pengurus Besar STII bersama sejumlah Pengurus Daerah (PD) STII berkumpul di Pendopo area peternakan Kambing-Domba Purwakarta (Ternakpark Purwakarta), Desa Cirangkong-Cirendeu, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026).

Pertemuan yang berlangsung sejak pagi hingga petang tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus konsolidasi organisasi untuk mengawali revitalisasi dan pembentukan kepengurusan STII di sejumlah wilayah Pantura.

Konsolidasi mencakup Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Purwakarta, Subang, Indramayu, hingga rencana penguatan jaringan di Kabupaten Cirebon. Selain memperkuat struktur organisasi, pertemuan juga membahas potensi pertanian, peternakan, palawija, serta peluang investasi sektor pangan di kawasan Pantura.

Ketua Umum PB STII Fathurrahman Mahfudz hadir bersama jajaran pengurus, di antaranya Wakil Ketua Umum sekaligus Ketua Harian PB STII Hilman Ismail Metareum, Sekretaris Jenderal PB STII Didi M. Rosidi, Wakil Sekretaris Jenderal Ega Sarkis, serta Ketua Bidang Organisasi Husin Tasrik Makruf.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pengurus daerah menyampaikan kondisi dan potensi pertanian di wilayah masing-masing.
Ustadz Rafli Al-Jauhari, Dewan Syariah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus Dewan Syariah PD STII Purwakarta, menilai kawasan Pantura memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

Baca Juga  Pemimpin yang Hebat Dicintai Anak Buah dan Mencintai Anak Buah

Menurutnya, sejumlah kawasan pertanian di Indramayu, seperti Kandanghaur, Losari, Jatibarang, dan Haurgeulis, masih memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan pertanian dan peternakan.

Hal senada disampaikan Muhamad Wafi dari Indramayu dan Haji Supendi, mantan Bupati Indramayu yang juga menjadi salah satu Dewan Pembina STII Kabupaten Indramayu. Mereka menilai penguatan sektor pertanian harus diarahkan pada pemberdayaan masyarakat sekaligus peningkatan nilai ekonomi hasil produksi petani.

Sementara itu, Dirman dari PD STII Subang mengungkapkan bahwa potensi produksi beras di wilayah Subang relatif besar. Namun, tantangan masih ditemukan pada kualitas dan penanganan hasil produksi, termasuk bekatul yang kadar airnya disebut masih sekitar 12 persen dengan kandungan protein sekitar 11 persen.

Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan penanganan lebih intensif agar produk dapat memenuhi standar mutu yang lebih tinggi. Dari sisi kuantitas, produksi dinilai masih mampu memenuhi permintaan pasar, tetapi persoalan harga yang fluktuatif menjadi salah satu tantangan bagi petani.

Di sektor palawija, komoditas padi dan jagung masih dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan meskipun menggunakan pupuk nonsubsidi. Sementara pengembangan kedelai di kawasan Bantarsari, Subang, masih membutuhkan pembinaan dan intensifikasi karena produksi panen belum mencukupi kebutuhan.

Baca Juga  Rekonsiliasi Legacy Jokowi Prasyarat Indonesia Emas 2045, Presiden KAI: Prabowo Gibran Tegak Lurus Melanjutkan!!!!

Pengurus PD STII Purwakarta, Kang Riqqi, juga menyampaikan harapan agar terdapat kolaborasi antarpengurus STII se-Pantura dalam mengembangkan sejumlah titik lahan pertanian produktif.

Kembangkan Kedelai Garuda Merah Putih

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PB STII Fathurrahman Mahfudz menyampaikan rencana pengembangan komoditas kedelai melalui bibit Kedelai Garuda Merah Putih I-IV. Bibit tersebut merupakan hasil penelitian dan rekayasa yang dikembangkan Wakil Ketua Umum PB STII Prof. Dr. Alizum Mashar.
Pengembangan pembibitan direncanakan dilakukan di wilayah Bojong, Subang, dan Indramayu. STII menilai komoditas kedelai memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan pangan sekaligus peluang agribisnis masyarakat.

PB STII juga disebut telah menjajaki calon investor yang berminat menanamkan investasi pada sektor palawija, khususnya komoditas kedelai dan Padi Trisakti STII.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui pengembangan usaha dari hulu hingga hilir.

Bekasi Hadapi Tekanan Alih Fungsi Lahan

Persoalan berbeda disampaikan PD STII Kabupaten Bekasi. Wilayah tersebut disebut memiliki potensi lahan pertanian yang cukup besar, sekitar 5.000 hektare. Namun, tekanan pembangunan gedung, perumahan, serta kawasan industri membuat ruang terbuka dan lahan pertanian semakin terdesak.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan perhatian lebih serius agar masyarakat petani tetap memiliki ruang untuk mengembangkan usaha pertanian.

Baca Juga  TBF Akui Kelalaian, Vihara Vajra Vijaya Citta Desak Permintaan Maaf dan Sanksi untuk Penyebar Hoaks

Bahkan, wilayah utara Kabupaten Bekasi dinilai memiliki potensi untuk pengembangan bawang merah. Karena itu, STII mendorong adanya pendampingan dan penguatan kelembagaan pertanian yang lebih dekat dengan masyarakat.

Sementara dari Kabupaten Karawang, muncul peluang pengembangan bekatul di wilayah Cilamaya. Selain itu, terdapat pula gagasan pemanfaatan minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat untuk kemudian ditampung dan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Gagasan pengumpulan minyak jelantah tersebut membuka peluang kolaborasi baru bagi jaringan STII di wilayah Pantura. Minyak jelantah yang terkumpul nantinya dapat dipasok kepada mitra pembeli STII untuk diolah lebih lanjut.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab hingga matahari terbenam itu menghasilkan semangat baru bagi jajaran Pengurus Daerah STII di kawasan Pantura. Berbagai usulan pengembangan pertanian, peternakan, palawija, investasi, hingga pengelolaan limbah rumah tangga menjadi bagian dari agenda tindak lanjut organisasi.

Konsolidasi tersebut sekaligus menegaskan arah STII untuk tidak berhenti pada penguatan struktur organisasi, tetapi ikut mendorong lahirnya program-program konkret yang menyentuh kebutuhan petani dan membuka peluang agrobisnis berbasis potensi lokal.

Dengan kolaborasi lintas daerah, STII berharap kawasan Pantura dapat semakin kuat sebagai salah satu sentra pangan nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat tani.
(HIM)

News Feed